dr. Fifin Marini, M. Biomed AAM, Berbagi Ilmu Mengenai Teknologi Laser untuk Mengatasi Permasalahan Jerawat

Salah satu pembicara Central Java Seminar & Workshop in Aesthetic Medicine (CeSWAM) 2017 di Solo, 10 – 12 Maret mendatang adalah dr. Fifin Marini, M. Biomed AAM. President Director Profira Aesthetic & Anti Aging Clinic di Surabaya ini akan berbagi ilmu dan pengetahuan mengenai penggunaan laser pada jerawat.

***

President Director Profira Aesthetic & Anti Aging Clinic di Surabaya dr. Fifin Marini, M. Biomed AAM

“Saya sudah 5 kali diminta berbagi di acara SWAM (Seminar & Workshop in Aesthetic Medicine),” dr. Fifin Marini, M. Biomed AAM membuka percakapan. Sembari membiarkan wajahnya dirias, Fifin menghitung-hitung. “Sekali di Jogja, Makassar, Jakarta, dan Surabaya. Solo ini yang kelima,” katanya.

Central Java Seminar & Workshop in Aesthetic Medicine (CeSWAM) 2017 di Solo, 10 – 12 Maret mendatang ini, Fifin akan banyak membahas mengenai penggunaan teknologi laser untuk mengatasi permasalahan jerawat. “Kebetulan tahun lalu saya juga membawakan materi yang kurang lebih sama,” ucapnya.

Pengetahuan tentang teknologi laser yang akan dibagikan Fifin sebenarnya merupakan penggunaan dasar teknologi laser. “Spesifiknya untuk mengatasi jerawat,” kata perempuan kelahiran tahun 1975 ini.

Menurut Fifin, variasi jerawat itu sangat kompleks. Laser menjadi salah satu metode untuk mengatasi permasalahan tersebut. “Di titik tertentu, pasien jerawat sudah resisten dengan antibiotik,” kata lulusan Anti-Aging Medicine Universitas Udayana, Bali ini.

Penggunaan laser yang paling sering digunakan adalah Blue Light. “Jenis ini membunuh bakteri penyebab jerawat pada pasien,” kata Fifin. Umumnya, sebelum dilakukan tindakan penyinaran, dokter biasanya melakukan photodenemic therapy.

Penggunaan laser sendiri juga bergantung dengan grade jerawat yang diderita pasien. “Umumnya grade jerawat di grade III dan IV-lah yang membutuhkan penanganan ini, sebab kondisinya lebih kompleks dan membutuhkan penangangan yang advanced,” jelas Fifin.

Penggunaan laser pun tidak terbatas usia pasien. Fifin menuturkan ada salah satu pasiennya yang masih berusia satu bulan. Saat itu sang pasien menderita suatu kelainan pembuluh darah di wajah. “Di bagian wajahnya ada semacam benjolan,” katanya.

Saat itu Fifin tidak langsung mengambil tindakan laser. “Kita tunggu dulu selama 1 bulan. Siapa tahu mengecil sendiri dan tidak diperlukan tindakan medis,” ucap ibu dua anak ini. Ternyata benjolan makin membesar dan Fifin memutuskan untuk segera melakukan penanganan laser.

Hal itu membuktikan bahwa teknologi laser aman diterapkan pada siapapun. “Malah enak bayi karena bisa dibedong. Justru kalau sudah 9 bulan ke atas atau sudah bisa gerak malah repot,” kelakar perempuan yang sempat berkeinginan menjadi dokter bedah plastik ini.

***

Apakah teknologi laser ini masih baru di Indonesia?
Bisa dibilang teknologi laser ini termasuk teknologi baru di Indonesia. Belum banyak dokter yang familiar dengan metode ini untuk diterapkan pada pasien. Tidak seperti di negara-negara maju lain.

Untuk menerapkan teknologi ini apa dibutuhkan sertifikasi khusus?
Ya. Dokter yang ingin menerapkan metode laser pada pasiennya harus mendapatkan sertifikasi yang dikeluarkan Ikatan Kedokteran Laser Indonesia (IKLASI). Sertifikasi ini bisa diperoleh dengan mengikuti workshop yang diadakan berkala oleh IKLASI.

Apakah laser menjadi salah satu keahlian Anda?
Sebenarnya tidak juga. Mungkin karena saya banyak menangani pasien dengan menggunakan metode laser ini, maka pihak SWAM meminta saya untuk berbagi tentang pengetahuan ini kepada dokter-dokter lainnya.

Apa yang membuat Anda terinspirasi selama menjadi salah satu pembicara di acara SWAM?
Menjadi pembicara di event seperti ini merupakan passion saya. Dengan menjadi pembicara, saya terpacu untuk lebih maju, termasuk menemukan hal-hal baru di dunia aesthetic medicine. Itulah yang menjadi motivasi saya untuk terus meng-upgrade diri sendiri.

Adakah tips bagi para dokter sebagai motivasi untuk ikut menjadi salah satu pembicara SWAM?
Selama kita passionate dengan apa yang kita kerjakan selama ini, serta kita berusaha yang terbaik untuk memberi manfaat pada orang-orang di sekitar kita. Semakin besar keinginan kita untuk berbagi dan belajar, terutama upgrade ilmu yang scientific based, saya percaya suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk menjadi pembicara di berbagai event medis.

Seberapa banyak Anda meluangkan waktu untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bidang aesthetic medicine?
Tidak ada waktu khusus. Tapi saya tekankan pada diri saya sendiri bahwa tiap hari adalah pembelajaran. Dengan memperbanyak interaksi dengan pasien. Sebulan 1-2 kali saya bisa bertemu dengan dokter-dokter lainnya dan sharing ilmu. Mengundang pembicara dari luar negeri untuk share ilmu mereka. Juga sempatkan waktu untuk membaca jurnal-jurnal baru.

Di mana saja pengetahuan mengenai aesthetic medicine? Mengingat banyak sekali berita hoax dan sumber yang belum tentu valid.
Lihat siapa yang menerbitkan jurnal medis tersebut. Umumnya ada di Medscape dan Pubmed. Untuk mengikuti workshop atau atau seminar, sebisa mungkin cari tahu siapa penyelenggaranya, materi yang disampaikan, serta siapa pembicaranya.

Sebagai seorang President Director, hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan para dokter yang ingin membuka klinik kecantikan?
Pertama, tentang legalitas klinik itu sendiri. Saat ini klinik kecantikan di Indonesia sering disorot. Dinas Kesehatan, Badan POM, kepolisian, semuanya memperhatikan. Jadi sebaiknya urusan legalitas diprioritaskan sehingga menghindari kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.

Kedua, klinik kecantikan yang sukses memperhatikan SDM (Sumber Daya Manusia)-nya. Dengan tim yang baik dan bisa diajak kerja sama, mempengaruhi kinerja klinik selanjutnya.

Ketiga, soal standarisasi organisasi. Pastikan klinik punya SOP (Standard Operation Procedure) dan job description yang jelas. Sisanya nanti bisa mengikuti seiring berjalannya waktu.

Tantangan apa saja yang akan dihadapi di awal-awal pembukaan klinik kecantikan?
Ini kan bisnis kepercayaan. Untuk membangun trust di pasien, tentu dokter perlu waktu dan effort untuk bisa memperkenalkan dirinya di hadapan pasien. Perlu kerja keras juga untuk membangun brand, khususnya brand baru.

Bagaimana untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut?
Sebagai tenaga medis, kita (dokter) itu dituntut profesional dan perfeksionis. Apalagi di dunia aesthetic medicine, dimana pasien yang datang tidak selalu untuk berobat. Untuk itu dokter harus bisa mengkomunikasikan dari awal hal-hal apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

Selain itu usahakan setiap opsi tindakan medis merupakan tindakan yang ada dasar ilmiahnya. Dokter aesthetic harus punya sense of judgement yang bisa tepat sesuai dengan kebutuhan pasien. Untuk itu diperlukan pengalaman dan ilmu yang cukup, serta ada SOP yang jelas saat melakukan tindakan medis.

Hal ini dilakukan untuk menjaga ekspektasi pasien yang terlalu tinggi, karena kita sebagai dokter juga bukan Tuhan yang bisa mengubah segalanya. Tidak perlu harus merasa bisa melakukan segalanya.