Out of the box. Itulah kesan yang akan didapat oleh pasien ketika bertemu dengan sosok Dokter Maya. Tidak suka memberi obat, dokter lulusan Jerman ini lebih senang menguliahi pasien untuk hidup sehat dengan makan secara bijak serta olahraga teratur. Bagi Dokter Maya, anti aging berawal dari kepedulian terhadap nutrisi.

 
Mengapa dulu memutuskan untuk terjun di dunia estetika?
Awalnya, saya tertarik dengan dunia ini karena ibu saya adalah seorang tokoh estetika. Sebenarnya, ibu adalah sarjana hukum, namun ia ikut kursus di mana-mana sehingga bisa menjadi pakar. Ibu saya bernama Esti Arini dan dulu di Semarang sudah dikenal oleh begitu banyak orang. Walau tidak punya basic pendidikan kedokteran, pasien ibu sangat banyak. Dari situlah saya kemudian ikut tertarik pada dunia estetika.

 

Kesibukan Dokter Maya sekarang apa saja?
Saya praktik di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo sebagai spesialis gizi, aktif di berbagai organisasi seperti Perdaweri dan PDGKI, mengisi sejumlah acara televisi, menjadi pembicara seminar-seminar, dan memberikan materi pengenalan hidup sehat pada komunitas ibu-ibu.

 

Bagi seorang Dokter Maya, kesuksesan itu apa?
Bagi saya, kesuksesan terbesar adalah bisa memberikan personalized medicine pada tiap pasien yang kasusnya unik. Saya sudah pernah menangani banyak pasien yang berjerawat parah, pencernaan jelek, stress, berketombe, insomnia, dan sebagainya. Mereka sudah pergi ke berbagai dokter dan tidak sembuh. Setelah bertemu saya, mereka bisa sembuh!

Apa kuncinya? Saya tidak memberi obat.

Tugas dokter bukanlah memberi obat tapi mencari root problem dari gejala-gejala yang muncul. Jika pasien mau menuruti apa yang saya sarankan, tingkat kesembuhan boleh dibilang hampir 100%.

 

Dokter adalah ahli di bidang gizi, sebenarnya seperti apa pentingnya ilmu gizi dalam dunia estetika?
Nutrisi adalah pilar utama dari estetika dan anti aging. Selain itu, olahraga dan hormon juga harus diperhatikan. Jika pasien ingin awet muda, yang harus diatur adalah nutrisinya. Bagaimana dia makan, bagaimana dia olahraga, bagaimana hormonnya. Jadi, anti aging dan estetika bukanlah soal operasi plastik atau botox saja.

Saya bukan orang yang anti operasi, namun jika orang mencari jalan pintas, hasilnya pasti hanya bertahan sesaat. Saya punya pasien yang cantik dan modis tapi staminanya sangat buruk. Buat apa punya wajah cantik dan awet muda tapi badan penuh penyakit?

 

Dokter Maya sering diminta menjadi pembicara dan tampil juga di televisi, apakah sebenarnya dokter suka mengajar?
Tujuan saya melakukan semua publikasi ini adalah untuk promosi hal yang sesungguhnya tentang dunia estetika. Saya kira semua orang sebenarnya peduli dengan anti aging. Siapa yang tidak ingin selalu muda? Siapa yang tidak ingin sehat sampai tua? Di usia 30 atau 40-an orang pasti sudah mulai takut kolesterol, darah tinggi, pikun, nyeri tulang, dan sebagainya.

Masalahnya adalah, orang terkadang salah kaprah ketika mendengar tentang istilah anti aging atau dunia estetika. Mereka mengira dunia estetika hanyalah bicara soal operasi plastik, botox, atau filler. Itu sangat salah karena basic dari anti aging sebenarnya adalah nutrisi!

Untuk itu, saya selalu menekankan hal ini setiap kali menjadi pembicara di manapun. Bahkan saat ke salon, orang yang memotong rambut juga ikut saya kuliahi soal anti aging dan nutrisi!

 
Sebagai dokter yang sering memberikan seminar, sebenarnya seberapa penting bagi dokter muda untuk mengikuti seminar medis?
Sangat penting bagi dokter untuk selalu update ilmu. Dokter itu seumur hidup tak boleh berhenti belajar. Ditambah lagi, dunia estetika ini cutting edge, selalu ada hal baru yang dulunya tidak ada. Jika tidak rajin mengikuti seminar, bagaimana dokter bisa tahu tentang hal-hal baru di bidang ini?

Ikut seminar pun harus serius. Jangan sekadar datang lalu mendengarkan beberapa menit dan ditinggal pergi. Ikut seminar itu tujuannya agar mendapatkan ilmu, bukan mendapat sertifikat.

 

Ada tips untuk berkarier di dunia estetika?
Sebelum terjun ke dunia estetika, seorang dokter harus tahu apa yang dia mau. Sudah cocok dengan panggilan hidup atau sekadar ikut-ikutan tren? Saya perlu mengingatkan bahwa ke depannya, karier di dunia estetika tidak akan mudah. Persaingan sudah sangat ketat. Jika dokter tidak memiliki panggilan, ia akan cepat desperate. Pasien sepi bisa-bisa langsung stress. Jadi, do you really want it?

 

Mental apa yang harus dimiliki oleh seorang dokter di bidang estetika?
Jika seorang dokter sudah memutuskan untuk terjun di bidang estetika, ia harus berani melakukan semuanya mulai dari diri sendiri. Mulai dari bangun sampai tidur lagi, kita harus melakukan segala hal dengan penuh kesadaran! Jika dokter menyuruh pasien untuk makan sehat, rajin olahraga, dan sebagainya, tentu pasien akan melihat dokternya. Bagaimana bila dokternya ternyata penyakitan, berjerawat, dan gemuk? Tentu pasien tidak percaya!

Jadi, untuk menjadi dokter estetik harus bisa mengatur body, spirit, and soul. Kita pasti tidak bisa menjadi sempurna, namun harus do the best we can. Walau harus jatuh bangun, setidaknya kita berusaha melakukan yang terbaik.

 

Sebagai dokter, bagaimana pandangan Dokter Maya tentang pasien?
Ketika menghadapi pasien, dokter tidak boleh memposisikan diri sebagai tukang. Jangan mau menuruti semua kemauan pasien untuk botox, operasi plastik, sedot lemak, filler, dan sebagainya. Kita ini dokter, bukan tukang reparasi.

Kalau yang dibenahi hanya luarnya saja, bagaimana dalamnya? Pasien apa mau luarnya cantik tapi dalamnya jelek? Apa pentingnya wajah cantik tapi organ-organ dalam rusak semua? Karena itulah saya selalu menekankan pentingnya gizi dan nutrisi. Kecantikan dan awet muda itu muncul dari dalam, dari makanan, dari olahraga, bukan sekadar dari botox.

 
Bagaimana cara dokter menolak pasien yang meminta operasi secara berlebihan?
Pasien harus diberi penjelasan. Dokter zaman sekarang perlu menurunkan derajatnya supaya tidak dianggap seperti dewa oleh pasien!

Di saat yang sama, pasien juga wajib menaikkan derajatnya dengan berani bertanya dan mencari tahu tentang kondisinya sendiri. Jadi, antara dokter dan pasien ada semacam titik temu. Dokter tidak terlalu tinggi derajatnya sehingga pasien takut bertanya, dan pasien juga tidak terlalu pasif hingga diberi obat apapun hanya menurut saja. Dengan diberi pengertian, pasien pasti bisa menerima penjelasan dokter.

Jika ada pasien yang benar-benar tidak bisa dibilangi dan memaksa untuk operasi, biasanya dia akan pergi sendiri. Namun, mereka yang bisa dibilangi hampir selalu sembuh dan menjadi setia. Buktinya, pasien-pasien saya sangat awet. Banyak yang sudah menjadi pasien sejak masih gadis hingga punya anak, lalu anaknya menjadi pasien saya juga. Pada akhirnya, setiap orang juga akan mati. Dokter bukan sekadar mencari uang dengan menerima pasien sebanyak-banyaknya namun juga memberi pengetahuan tentang apa yang baik untuk pasiennya.